Jumat, 26 Oktober 2007

Rujukan Indonesia satu waktu

MENJADIKAN INDONESIA SATU WAKTU.

Sangat menarik jika kita cermati tulisan Sdr. M. Ichsan Loulembah, anggota DPD RI, pada Harian nasional yang terbit di Jakarta ( 23/10), tentang dijadikannya Indonesia satu waktu, bukan lagi tiga (WIB, WITA,WIT) sesuai Keppres No. 41/1987, mengingat pembagian waktu tersebut adalah domain kekuasaan dan politik, bukan keputusan oleh para iluwan.

Ketentuan beda waktu satu jam dengan perhitungan secara ilmiah, 15 derajat busur, tidak terpenuhi dalam penetapan penunjukan waktu menjadi tiga wilayah di Indonesia, Singapura dan Malaysia yang letaknya lebih barat dari Pulau Jawa memiliki ketentuan wilayah waktu yang sama dengan WITA.

Pembagian wilayah menjadi tiga membawa sederet konsekwensi dan inplikasi penting, seperti PLN tidak sanggup memenuhi kebutuhan listrik nasional karena masyarakat lebih sedikit memanfaatkan sinar matahari dan lebih lama berada didalam rumah, artinya masyarakat lebih lama mengkonsumsi listrik, sedang konsumsi listrik dimalam hari sangat banyak dan stasiun TV besar ada diwilayah WIB.

Masyarakat di WIT, harus menonton TV, satu, dua jam lebih lambat, ini cukup aneh, meskipun mereka menyalakan listrik lebih dulu, tetapi tidurnya lebih lambat sedang bangunnya lebih cepat ketimbang mereka yang berada di WIB, anak-anak yang menunggu acara idola mereka harus menunggu hingga larut saat kantuk mulai menyergap, esok paginya mereka harus bangun lebih cepat agar tidak terlambat sekolah.

Konsentrasi belajar pastilah tidak sebaik mereka yang menikmati tidur cukup, mungkin inilah salah satu penyebab terjadinya kesenjangan informasi dan prestasi (dikalangan siswa) di Indonesia, sebaliknya industri televisi tidak akan kehilangan waktu 1 -2 jam prime time mereka.

Pengaruh lain sangat dirasakan oleh industri pariwisata dan penerbangan, Bali lebih menarik wisatawan karena waktunya sama dengan Negara asal, kita tahu Jepang adalah penyumbang turis yang sangat signifikan sedang Singapura merupakan pintu masuk yang tidak boleh disepelekan, seperti yang kita ketahui, semula Bali masuk WIB, tetapi melalui keputusan politik pemerintah pusat tahun 1987, digeser menjadi WITA.

Pembagian tiga waktu tersebut turut mendorong ‘Inefisiensi’ disektor produksi jasa, pemerintahan, penerbangan/transportasi, perbankan, telekomunikasi dan pariwisata, perusahaan yang berkantor pusat di Jakarta (WIB) dan beroperasi di Indonesia Timur salah satu yang merasakan dampak atas pembagian tiga waktu tersebut, ketika kantor mereka di WIB, belum buka, kantor di WITA/WIT sudah buka lebih dulu, sebaliknya kantor di WITA/WIT sudah tutup, kantor di WIB belum buka, jadi sangat inefisiensi dan terputusnya komunikasi.

Kuncinya ternyata : Perbedaan waktu dalam memulai aktivitas yang menyebabkan produktivitas dan daya saing nasional tidak optimal, inefisiensi, stabilitas moneter, krisis energi, kebodohan dan kemiskinan, alasan-alasan itu pula yang mendoronng China menyatukan waktunya dari lima menjadi satu waktu tunggal padahal luas negeri titai bamboo tersebut lebih besar ketimbang luas Indonesia.

Dalam konteks ini, ide penyatuan waktu yang sempat bergema beberapa waktu lalu patut dihidupkan kembali, karena penyatuan waktu akan berefek pada efisiensi sumber daya manusia (SDM), daya saing nasional dan hal-hal terkait lainnya.

Di ASEAN, sejak 1995 gagasan itu pernah didengungkan melalui ASEAN Common Time (ACT), intinya mempertimbangkan penyatuan waktu antar Negara ASEAN atau Ibukota Negara-negara ASEAN dimaksudkan untuk memudahkan kegiatan ekonomi, budaya, politik dan sebagainya,

Jika penyatuan waktu mampu mendongkrak produktivitas dan daya saing kita ditingkat Global serta mengikis inefisiensi, dibanyak sector, mengapa Pemerintah tidak segera menerapkannya,?..........................

(suatu bahasan menarik yang perlu ditindak lanjuti Pemerintah tentunya.)

Bid'ah alias berprasangka buruk.

BID,,,AH, SUUDHON A l i a s BERPRASANGKA BURUK


Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari berprasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu “Dosa” dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain, sukakah seseorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati, maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya dan bertaqwalah kamu kepada ALLAH, sesungguhnya ALLAH Maha penerima Taubat lagi Maha Penyayang “...( QS : 49 , 12 )--------------------------

Betapa tidak berartinya “logika manusia” yang telah dididik bertahun tahun lamanya, hanya mencetak manusia berfikir duga-duga bahkan selalu berprasangka buruk hal hasil prasangka buruk tidak saja terarah terhadap sesama mahluk bahkan tidak jarang langsung terarah kepada ALLAH.----------

Akibat terlalu buta dan gelapnya daerah hati, maka tampaknya diri sendiri lebih baik dan sempurna dari diri orang lain dan tidak disadari bahwa dirinya ternyata lebih tidak berarti bahkan lebih buruk atau kotor dari pada yang diprasangkai, misalnya menduga seseorang adalah kotor, maka apa yang kamu tuduhkan kepada fihak lain itu adalah sebenarnya dirimu.-----------------

Agar keburukan diri sendiri tidak terlihat dan terbaca oleh fihak lain, maka dilemparkanlah keburukan itu kepada orang lain yaitu: dengan cara berprasangka buruk, jadi jelasnya setiap prasangka buruk sama halnya dengan membuka aib atau keburukan dirinya sendiri.------------------------------

Mereka yang berprasangka buruk itu adalah mereka yang tidak pernah mendapatkan kebahagiaan dan kepuasan sesungguhnya, sehingga untuk memperoleh kebahagiaan dan kepuasan jalan yang ditempuh adalah berprasangka buruk padahal kebahagiaan dan kepuasan yang diperoleh dari hasil berprasangka buruk hanya dapat dirasa oleh nafsu.--------------------------

Jika ingin melepaskan dari belenggu “iblis” yang selama ini kuat membelenggu dirimu, sudah seharusnya tempat persembunyian iblis yang ada dihatimu digusur dengan tekad bulat dan selama bathin belum dapat menggusur iblis dari sudut hati, jangan harap ALLAH dapat mengisi hatimu sekalipun kau beribadah sederas-derasnya hasilnya seperti “ buih ditepi pantai “ akan seketika lenyap tiada berarti.-------------------------------------------------------------

Tempat persembunyian iblis dihati jika tidak dikikis habis, selamanya dirimu akan berada dalam rantai ikatan belenggu iblis diantaranya adalah : Kurang dan bahkan tidak bias menghargai suami, sebagaimana mestinya seorang istri terhadap suami hal ini dikarenakan Prasangka buruk terhadap suami selalu saja ada pada diri seorang istri, apakah sikap demikian itu tidak termasuk salah satu Dosa ?.--------------------------------------------------------------------------

Sesungguhnya prasangka buruk hampir setara dengan “fitnah” sebab fitnahpun belum tentu sesuatu yang nyata, tidakkah kau ketahui bahwa ALLAH mendidik hambaNYA untuk senantiasa yakin pada sesuatu dan apa jadinya kehidupan ini jika hanya diisi oleh manusia-manusia yang suka menduga-duga dan berprasangka buruk “Sebenarnya prasangka itu adalah sifat iblis dan sifat binatang”.-------------------------------------------------------------

Perlu diketahui “Hakekat” prasangka buruk timbulnya dari sifat kedengkian, tanpa kedengkian tidak akan ada wujud berprasangka buruk, sebagaimana kedengkian iblis terhadap Adam, oleh karena itu apapun bentuk prasangka apakah itu prasangka baik maupun buruk akan tetap saja ternilai “ Musyrik” dimata ALLAH, maka untuk menghilangkan prasangka buruk seseorang diarahkan untuk senantiasa dekat dan bertanya kepada ALLAH, sehingga apa yang dilihat, didengar atau ditelusuri tidak lagi membawa nilai prasangka atau menduga-duga apalagi ragu-ragu melainkan sesuatu yang harus diyakini dan nyata.-----------------------------------------------------------------------------------------

Bersyukur atas pemberian nikmat, rahmat, hidayah serta karunia yang tak ternilai harganya dari ALLAH Subhanna Wa Ta’alla akan membuat orang rendah diri dan mengetahui keberadaan serta kemampuannya karena jika menuruti hawa nafsu manusia yang dipengaruhi iblis akan selalu kurang dan tidak pernah puas.-------------------------------------------------------------------

Berfikir Positif merupakan “kunci” dari segala sesuatu beban dan rongrongan pada diri seseorang sehingga terhindar dari gejala penyakit berprasangka buruk yang pada gilirannya nanti akan menjadi bumerang pada diri sendiri karena kurang percaya diri sehingga penyakit kejiwaan ( Stres/ Stroke ) dll. Akan menghantui kehidupan yang semestinya tidak perlu terjadi dan ketakutan pada diri sendiri ( was-was ) sebagai sumber ketidak yakinan akan kebesaran ALLAH.--------------------------------------------------------------------------


o Awal februari dua ribu tiga :

o Sekapur sirih, alunan suara dan cahaya kunang-kunang serta gigitan nyamuk yang tak kenal kompromi menghentak dikeheningan malam yang semakin sepi dan bisu setegar diamnya batu karang.